DIALEKTIKA-INHARMONI PEMIMPIN FORMAL DAN NON FORMAL DALAM GELIAT PEMBAGUNAN MASYARAKAT PEDESAAN (Studi Fenomenologis Pada Masyarakat Desa Kabupaten Lombok Timur)

  • WIRASANDI
Keywords: Dialektika-Inharmoni, Pemimpin Formal, Non Formal

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan secara deskriftif-faktual atas segala fenomena
dalam masyarakat pedesaan di wilayah kabupaten Lombok Timur. Jenis penelitian ini adalah
studi fenomenologis. Dimana data yang dihasilkan adalah data realistic fenomenologis
meliputi tindakan, motif tindakan serta nilai-nilai kepribadian dalam masyarakat. Hasil dari
penelitian ini adalah : Sering kali keputusan dari pemimpin formal (kepala desa), yang sudah
jelas hukum formalnya dapat dengan mudah dimentahkan oleh arti dari nilai sebuah adat.
Persepsi masyarakat yang bergantung dari pemanfaatan hutan sebagai bagian dari alur
hidup banyak dipengaruhi oleh hukum adat. Persepsi tentang kelestarian menurut adat
seringkali berbenturan dengan hukum adat formal yang dipegang oleh kepala desa. Namun
dalam prakteknya hal ini tidak pernah menuai kontroversi antara pemimpin formal dan
pemimpin non-formal. Pemimpin non formal dilibatkan sebagai katup penyelamat untuk
berbicara menyangkut kepentingan hak-hak masyarakat adat di daerah.Pemimpin formal di
wilayah kabupaten Lombok Timur sadar dengan posisi kuat yang dimiliki oleh setiap tokoh
adat yang memegang peran penting dalam setiap dimensi dinamika masyarakat di masingmasing
wilayah di kabupaten Lombok Timur. Sehingga dengan arif pemimpin formal harus
tetap mau “berbagi” kuasa dengan para pemimpin non formal (adat) demi tetap
terselenggaranya pemerintahan desa yang baik. Sehingga keterlibatan para pemimpin non
formal selalu dilibatkan dalam hal penentuan hak-hak masyarakat desa. Disisi lain hal
tersebut dianggap sebagai sesuatu yang baik oleh masyarakat. Meminjam teori cosser
dengan istilah “katup penyelamatnya”, keterlibatan pemimpin non-formal dalam hal ini tokoh
adat dianggap sebagai katup penyelamat oleh sebagian besar masyarakat desa diwilayah
kabupaten Lombok timur.
Kata Kunci : Dialektika-Inharmoni, Pemimpin Formal, Non Formal

This study aims to reveal the factual basis for any descriptive-phenomenon in rural
communities in East Lombok regency. This research is a phenomenological study. Where
data is data generated realistic phenomenological includes actions, motives for action as well
as the values of personality in society. The results of this study are: Often the decision of
formal leaders (village head), the obvious formal law can easily be countered by a sense of
the value of a custom. The public perception that relies on the use of forests as part of the
flow of life is heavily influenced by customary law. Perceptions about sustainability as the
custom is often in conflict with customary law formally held by the village head. However, in
practice this is never the controversy between the leaders of non-formal and formal leaders.
Non-formal leaders involved as a safety valve to speak concerning the interests of indigenous
peoples' rights in formal daerah. Pemimpin in East Lombok district aware of the strong
position held by any traditional leader plays an important role in every dimension of
community dynamics in each region in East Lombok district. So wisely formal leaders must
remain willing to "share" power with the leaders of non-formal (traditional) in order to remain a
good implementation of the village administration. So that the involvement of non-formal
leaders are always involved in determining the rights of the villagers. On the other hand it is
considered as a good thing by the community. Borrowing theory cosser with the term "valve
rescuer", the involvement of non-formal leaders in this custom figure regarded as a safety
valve by most rural region of eastern Lombok district.
Keywords: In-harmony Dialectics, Formal Leader, Non-Formal

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2020-02-21